Mohon tunggu...

Kamis, 11 Desember 2008

WANITA PENYELAMAT ?? !!

Wanita penyelamat

Seorang
wanita cantik tengah menikmati perjalanannya dengan kapal pesiar. Untuk mengenang perjalanannya, dia menulis dalam buku harian. Tanggal 13: Sebuah keberuntungan buatku. Aku berhasil mengenal kapten kapal dan ternyata dugaanku benar. Dia sangat gagah... Aaah beruntungnya aku. Tanggal 14: Tanpa kuduga sang kapten mengajakku makan malam dan... Alamak dia juga memuji kecantikanku... Aku jadi tersanjung. Tanggal 15: Dia mengajak makan malam lagi. Sang kapten ternyata nakal juga. Dia mulai berani mengajakku bercinta dan menunggu jawabanku besok. Tanggal 16: Dia menagih janji. Dengan jual mahal kutolak dia. (emangnya gua apaan...) eh...dia malah mengancam akan menenggelamkan kapal beserta 1200 penumpangnya. Tanggal 17: Pagi yang cerah. Aku bangga bisa menyelamatkan nyawa 1200 penumpang.
Baca lanjutannya

Selasa, 09 Desember 2008

Wajah

Masih sering komunikasi, dan semoga nggak jeleh-jeleh, kika..novi, ida, oni. Mungkin bisa ditularkan dan dikembangkan jadi arisan untuk mensupport paguyuban yag sedang digodok di Jakarta oleh warga ex namche yang masih bergairah memajukan dan mensupport serta mengembangan pendidikan.

Semoga saja tujuan yang mulia tersebut mendapat dukungan dari segenap warganya yang diharapkan bisa urun rembuk dan mensupport hingga jadi kenyataan, sekaligus kiprah dalam implementasinya.

wajah setelah hampir 2 dekade lolos dari depaszter, kika...ids dan novi
Baca lanjutannya

Senin, 08 Desember 2008

Risky Summerbee & the Honeythief Concert

From: Inside Your Shoes JustForYou
Sent: Sunday, December 07, 2008 1:48 AM
Subject: Risky Summerbee & the Honeythief Concert








Baca lanjutannya

"Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya"

Dari: ReSa CanTiQue <resa_loetchoe@yahoo.com>
Tanggal: 7 Desember 2008 23:16
Subjek: [namche] "Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang
kau adalah dunianya"
Ke: AJARI Dua <arungsejarahbaharidua@yahoogroups.com>, NamChe
<mudawijaya@yahoogroups.com>


Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta
terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam.
Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di
kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.

Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur ?" sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga
ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab,
"Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?"

"Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?"

"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Sarah singkat.

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10
jam dan dibayar Rp. 400.000,-.

Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.

Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji
Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?"

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar
sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika
Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari
mengikutinya. "Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,-untuk 10 jam,
berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong" katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur" perintah Andrew.
Tetapi Sarah tidak beranjak.

Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,Sarah kembali bertanya,

"Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam
begini ?Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah".

"Tapi Papa..."

Kesabaran Andrew pun habis. "Papa bilang tidur !" hardiknya mengejutkan Sarah.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah
di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati
sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di
tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata,

"Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta
uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa.

Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Andrew

"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan
kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini".

"lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Andrew lembut.

"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga.
Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat
berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku,

hanya ada Rp.15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar
Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-.

Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari
Papa" kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil
itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata
limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk
"membeli" kebahagiaan anaknya.

"Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya"

__._,_.___
Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members
http://namche-jogja.blogspot.com
MARKETPLACE
________________________________
From kitchen basics to easy recipes - join the Group from Kraft Foods
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch
format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

Baca lanjutannya

Minggu, 07 Desember 2008

Tiga Suku kata Yang sangat indah untuk dibudayakan

Ini ada kisah seorang Office Boy.
Dikisahkan, di sebuah pesta perpisahan sederhana pengunduran diri seorang direktur. Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan, dan kritikan dari anak buah kepada mantan atasannya yang segera memasuki masa pensiun dari perusahaan tersebut. Karena waktu yang terbatas, kesempatan tersebut dipersilahkan dinyatakan dalam bentuk tulisan. Diantara pujian dan kesan yang diberikan, dipilih dan dibingkai untuk diabadikan kemudian dibacakan di acara tersebut, yakni sebuah catatan dengan gaya tulisan coretan dari seorang office boy yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu. Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut,
"Yang terhormat Pak Direktur. Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata "tolong", setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah tanggung jawab saya. Terima kasih Pak Direktur karena Bapak telah mengucapkan "maaf", saat Bapak menegur, mengingatkan dan berusaha memberitahu setiap kesalahan yang telah diperbuat karena Bapak ingin saya merubahnya menjadi kebaikan. Terima kasih Pak Direktur karena Bapak selalu mengucapkan "terima kasih" kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk Bapak.Terima kasih Pak Direktur atas semua penghargaan kepada orang kecil seperti saya sehingga saya bisa tetap bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan dikecilkan. Dan sampai kapan pun bapak adalah Pak Direktur buat saya. Terima kasih sekali lagi. Semoga Tuhan meridhoi jalan dimanapun Pak Direktur berada. Amin."
Setelah sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu, serentak tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Diam-diam Pak Direktur mengusap genangan airmata di sudut mata tuanya, terharu mendengar ungkapan hati seorang office boy yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan seluruh isi kantor. Pak Direktur tidak pernah menyangka sama sekali bahwa sikap dan ucapan yang selama ini dilakukan, yang menurutnya begitu sederhana dan biasa-biasa saja, ternyata mampu memberi arti bagi orang kecil seperti si office boy tersebut. Terpilihnya tulisan itu untuk diabadikan, karena seluruh isi kantor itu setuju dan sepakat bahwa keteladanan dan kepemimpinan Pak Direktur akan mereka teruskan sebagai budaya di perusahaan itu.
Pembaca Yang Budiman ,
Tiga kata "terimakasih, maaf, dan tolong" adalah kalimat pendek yang sangat sederhana tetapi mempunyai dampak yang positif. Namun mengapa kata-kata itu kadang sangat sulit kita ucapkan? Sebenarnya secara tidak langsung telah menunjukkan keberadaban dan kebesaran jiwa sosok manusia yang mengucapkannya. Apalagi diucapkan oleh seorang pemimpin kepada bawahannya. Pemimpin bukan sekedar memerintah dan mengawasi, tetapi lebih pada sikap keteladanan lewat cara berpikir, ucapan, dan tindakan yang mampu membimbing, membina, dan mengembangkan yang dipimpinnya sehingga tercipta sinergi dalam mencapai tujuan bersama.
Tentu bagi siapapun kita perlu membiasakan mengucapkan kata-kata pendek seperti terima kasih, maaf, dan tolong dimana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun kita berhubungan. Dengan mampu menghargai orang lain minimal kita telah menghargai diri kita sendiri. mudah2an 3(tiga) suku kata " Maaf, Tolong dan Terimakasih " bermanfaat bagi kita semua

suhardiman.suhardiman@energizer.com
Baca lanjutannya

Reformasi di Kantor Pajak

Kisah ini, meskipun diambil dari blog yang bernama “berbual.com” namun adalah kisah nyata yang telah divalidasi langsung kepada penulis aslinya, Hasanudin Abdurrakhman, seorang Phd lulusan Jepang, Direktur PT. Osimo Indonesia, sebuah perusahaan PMA di Bekasi. Sebuah tulisan yang secara tulus muncul, dari seorang yang selama ini tidak pernah menulis tentang kebaikan negeri Indonesia, karena hal itu sulit sekali ditemukannya setelah 10 tahun hidup di Negeri Sakura. “Kemarin, untuk pertama kalinya saya bisa merasa lega karena bisa menulis hal baik tentang Indonesia, yaitu tentang Reformasi di Kantor Pajak.
Kecil memang, tapi tulisan beliau ibarat oasis ditengah padang gersang, yang mampu memberi kesejukan ditengah sikap skeptis masyarakat terhadap modernisasi DJP, ditengah masih banyaknya keluhan dan pengaduan masayarakat tentang buruknya pelayanan dan integritas petugas pajak setelah modern. Tulisan beliau juga laksana obor yang mampu kembali menyalakan semangat kita yang benar-benar menginginkan kemajuan dan perbaikan di DJP.
Terimakasih kepada teman-teman KPP Madya Bekasi! Integritas dan profesionalisme teman-teman telah memunculkan oasis dan menyalakan obor itu. Untuk itu Direktur KITSDA telah memberikan apresiasi kepada segenap jajaran pimpinan dan pegawai KPP Madya Bekasi khususnya yang terkait dengan pelayanan terhadap PT. Osimo Indonesia melalui Surat Nomor S-256/PJ.11/2008 tanggal 14 November 2008. Surat tersebut ditembuskan kepada Bpk. Direktur Jederal Pajak dan Kakanwil DJP Jawa Barat II. Surat tersebut juga telah kami bacakan dalam acara Internalisasi Nilai-Nilai Organisasi DJP di hadapan 1300-an pegawai Kantor Pusat DJP, Senin dan Rabu kemarin… dan mendapat apresiasi yang positif dari mereka!!
Buat teman-teman lain semoga pengakuan-pengakuan khususnya dari pihak eksternal tersebut dapat menjadi pemicu untuk senantiasa memberikan karya terbaik. Kami yakin bahwa sebagian besar pegawai juga telah berdedikasi dan melakukan hal yang sama bahkan mengalami tantangan yang lebih berat, atau melakukan hal yang lebih baik, dalam bekerja, namun belum tersampaikan atau tidak terekspos ke permukaan sehingga organisasi terkesan tidak memperhatikan hal tersebut. Untuk itu yakinlah bahwa Yang Maha Kuasa tidak pernah tidur, selalu menghitung dan menyaksikan!! Dan kebaikan-kebaikan tersebut akan menjadi tabungan anda yang sewaktu-waktu dapat cair dalam bentuk berbagai kebaikan lain yang melimpahi anda dan keluarga jika anda iklhas melakukannya..!!
Bahwa pengakuan tersebut pasti bukanlah tujuan akhir, namun banyaknya pengakuan dan pandangan positif dari pihak eksternal, tentu akan menjadi bekal dan senjata tersendiri bagi pimpinan untuk terus memperjuangkan kemajuan DJP termasuk memperbaiki pemenuhan hak-hak bagi pegawai… yang sekarang ini masih banyak dikeluhkan pegawai. Kita doakan saja…
Berikut adalah artikel “Reformasi di Kantor Pajak”, yang telah diijinkan oleh Bpk. Hasanudin Abdurrakhman untuk ditampilkan di web KITSDA:

Reformasi di Kantor Pajak
11 November 2008
Ketika Departemen Keuangan mencanangkan reformasi birokrasi saya skeptis. Isu yang muncul ketika itu seolah pusat reformasi ini pada sistem remunerasi. Apa iya kalau gaji pegawai diperbaiki lantas mereka berhenti korupsi? Suatu ketika saya diundang menghadiri sosialisasi masalah perpajakan oleh KPP Karawang. Waktu itu pembicaranya adalah Kakanwil Ditjen Pajak Jawa Barat. Isi pembicaraannya lagi-lagi soal reformasi di Kantor Pajak. Ketika itu saya juga skeptis<http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/punya-npwp/>.
Sekitar 3 bulan yang lalu, perusahaan tempat saya bekerja mengajukan restitusi PPN ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Bekasi . Jumlahnya lumayan untuk ukuran sebuah PMA berskala kecil. Semua dokumen saya lengkapi, lalu permohonan saya ajukan. Saya ketar ketir. Di masa lalu restitusi PPN adalah salah satu objek perasan petugas pajak. Suara-suara di sekitar saya bernada sama soal ini. “Kembali 50% itu bagus, bisa 70% excellent.”
Meski yakin tidak ada yang salah dengan dokumentasi perpajakan perusahaan kami, saya tetap ketar ketir. Salah satunya karena trauma masa lalu. Ada saja kesalahan yang diungkit petugas pajak untuk membuka pintu negosiasi soal imbalan kalau nanti dana yang direstitusi sudah cair. Kali ini pun saya pasrah. Pokoknya serahkan saja dulu aplikasinya, kalau ada “masalah” ya siap-siap negosiasi.
Prosesnya berjalan relatif cepat. Setelah beberapa kali diminta melengkapi dokumen, disertai kunjungan petugas, akhirnya saya dapat kabar bahwa restitusi kami disetujui, nyaris tanpa koreksi. Sejauh prosesnya berjalan, tidak ada isyarat dari petugas untuk minta sesuatu.
Situasi ini jelas membingungkan buat saya. Biasanya belum-belum sudah ada bisik-bisik, isyarat, dan lain-lain. Bagaimana saya harus bersikap? Kalau saya tawarkan sesuatu, saya khawatir dituduh menawarkan suap. Kalau saya diam saja, bisa-bisa masalah perpajakan saya dipersulit di masa depan.
Dalam hati saya bertekad, sebisa mungkin saya tidak ingin memberi sesuatu ke petugas pajak. Sejauh yang sudah berjalan, saya lihat sudah ada beberapa perbaikan nyata dalam pelayanan mereka. Tapi soal uang imbalan ini adalah soal yang paling krusial. Kalau saya tawarkan sesuatu, meski mereka tidak meminta, boleh jadi mereka juga tidak akan menolak. Kalau itu terjadi, saya justru turut berperan dalam merusak tatanan baru yang dicanangkan lewat reformasi birokrasi.
Konsultasi juga saya lakukan dengan teman-teman yang punya kepedulian tentang masalah ini. Ada yang masih menjalankan tradisi lama, memberi sesuatu pada petugas, dan petugas itu menerimanya. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk tidak memberi apapun ke petugas.
Akhirnya tadi pagi staf saya memberi tahu bahwa uang restitusi sudah masuk ke rekening kami. Sekali lagi saya sempat bingung harus berbuat apa. Nah, kebetulan hari ini atas undangan kami datang 2 orang petugas dari Seksi Pelayanan KPP Madya Bekasi untuk menjelaskan soal kewajiban punya NPWP kepada karyawan perusahaan kami. Ketika penyuluhan selesai, pas jam makan siang. Saya tawarkan kepada mereka untuk makan siang bersama. Tapi mereka menolak.
Di masa lalu, adalah lumrah kalau perusahaan menjamu makan petugas pajak. Di situ negosiasi dapat dimulai. Kali ini petugas sepertinya benar-benar menutup peluang itu. Meski mereka bukan petugas yang tadinya mengurusi restitusi saya, sikap mereka ini bagi saya mewakili sikap institusi. Maka tekad saya bulat. Sama sekali tidak perlu memberi imbalan kepada petugas. Kalau itu saya lakukan saya melanggar hukum. Dan lebih buruk lagi, saya merusak tunas reformasi yang sebetulnya juga saya harapkan untuk tumbuh dan berkembang.
Tulisan ini adalah wujud rasa syukur saya atas perubahan di Kantor Pajak. Perubahan ini tentu belum mencerminkan hasil reformasi secara menyeluruh. Tapi serpihan peristiwa ini bagi saya adalah titik penting bagi perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.
Reformasi adalah soal perubahan mind set. Petugas pajak sudah menunjukkan perubahan itu. Masalahnya, bisakan wajib pajak mengubah mind set mereka? Saya sendiri merasakan betapa sulit mengubah mind set itu. Perlu banyak konsultasi hingga saya sampai pada kesimpulan bahwa petugas pajak sudah berubah.
Bagi mereka yang selama ini diuntungkan oleh kebusukan petugas pajak, cerita seperti yang saya alami ini boleh jadi merupakan lonceng kematian buat mereka. Semoga petugas pajak bisa konsisten, termasuk dalam menangani para wajib pajak yang nakal. Dari saya, sikap petugas pajak ini semakin mempertebal komitmen saya untuk senantiasa mengelola urusan perpajakan secara sahih.

Sumber : http://berbual.com/bisnis-dan-manajemen/reformasi-di-kantor-pajak/
Baca lanjutannya

Pemanasan

Blog saat ini bisa menjadi media virtual untuk memberikan kabar maupun sesuatu yang diinginkan pembuatnya, dan tidak kalah dengan sosial networking lainnya. Seiring dengan berkembangnya blogging ini, maka menjadi sebuah harapan baru juga untuk dapat menjadi ajang untuk sharing informasi dan update informasi tentang komunitas alumni SMAN 6 Yogya angkatan 90 keluar atau angkatan 87 masuknya.

Dengan adanya fasilitas Facebook Connect, Open ID atau Friend Connect dari om Google dan fasilitas posting melalui email : advokasi.depazter@blogger.com , diharapkan teman-teman semua dapat mengirim informasi apapun tidak terkecuali untuk memanaskan dunia pertemanan ini, dan saya pikir juga terbuka terhadap siapapun alumni Depazter yang berkenan mengirimkan informasi.

Seperti berita foto pertama ini adalah pertemuan yang dilakukan teman-teman alumni di Jakarta beberapa waktu yang lalu. Dan satunya adalah ketika rapat di malam hari ketika masih sekolah, entah dimana dan kapan saya sudah lupa. Dan juga ketika pertemuan-pertemuan kecil yang tentunya juga membicarakan tentang kehidupan kita saat ini.

Apapun informasi dari teman-teman beserta gambarnya bisa dikirimkan via email ke advokasi (dot) depazter (at) blogger (dot) (com). Serta alangkah baiknya jika informasi ini dapat disharing ke sesama angkatan. Thanks.
Baca lanjutannya

Translate to your Language

Widget by Hoctro

Vitamin

Connect

Depazter 1990 © 2008 Template by Dicas Blogger.

Atas